Showing posts with label Naskah Crystal. Show all posts
Showing posts with label Naskah Crystal. Show all posts

Monday, March 5, 2007

Sebuah Potret Meja Makan

(POLIGAMI)

by : Luky HW


BABAK I

Maruti:

Halo, selamat pagi! Betul, saya sendiri. Oh… pak RT. Pak Kusmiyanto masih mandi. Ada perlu apa, ya pak? Aduh, maaf lho pak RT. Nanti biar saya kasih tahu.


Kusmiyanto:

Telepon dari siapa?


Maruti:

Pak RT. Sarapan?


Kusmiyanto:

Ada apa? Pagi-pagi sudah ganggu.


Maruti:

Nasi goreng ceplok telur atau roti?


Kusmiyanto:

Roti saja, biar cepat.


Maruti:

Itu lho, minggu besok ada kerja bakti. Ikutlah sekali-sekali. Malu sama tetangga. Kamu, kalau ada kerja bakti selalu nggak pernah kelihatan batang hidungnya. Kopi atau teh?


Kusmiyanto:

Susu.

Maruti:

Habis.


Kusmiyanto:

Kopi. Kenapa mesti malu? Omongan tetangga saja kok didengar.

Maruti:

Ya sudah. Tapi datang ya. Nih, kopinya.


Kusmiyanto:

Eh… jeng Rut… ada yang ingin saya sampaikan.


Maruti:

Apa?


Kusmiyanto:

Anu jeng Rut… Saya mau… Aduh, bagaimana ya memulainya?


Maruti:

Soal apa sih?


Kusmiyanto:

Saya ingin… Aduh, saya khawatir kalau...


Maruti:

Kalau apa? Ya, bicara saja to, mas.


Kusmiyanto:

Saya mau…


Maruti:

Mau apa?


Kusmiyanto:

Tapi jeng Rut jangan kaget dulu lho. Janji. Pokoknya, apa yang saya sampaikan nanti, tolong dicerna dulu dengan seksama. Jangan terburu emosi. Jeng Rut kan perempuan dewasa, cerdas, intelek…

Maruti:

Iya apa... Langsung saja deh!



Kusmiyanto:

Saya… mau… kawin lagi!


Maruti:

(sambil merebut roti) Apa? Kawin lagi?


Kusmiyanto:

Ya, jeng. Kawin lagi. (Maruti merebut kopi) Eh… gini jeng. Akan saya saya jelaskan…


Maruti:

Tulis alasan kamu, kenapa mau beristri lagi, di kertas ini! Serahkan padaku sepulang dari kantor nanti sore! Saya harus segera berangkat. Mobil saya pakai!


Kusmiyanto:

Tapi, jeng Rut…


Maruti:

Jalan kaki saja! Edy… siapkan mobil! Antarkan ibu ke kantor!


Edy:

(dari balik layer) Ya, bu…



BABAK II


Kusmiyanto:

Bagaimana dik Rosmini, betah tinggal di sini?


Rosmini:

Ya, mungkin saya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan rumah ini. Termasuk dengan mbak Maruti. Ya kan, mbak?


Kusmiyanto:

Dik Rosmini jangan sungkan-sungkan. Rumah ini adalah rumah kita bertiga. Jadi kalau ada apa-apa, bilang terus terang. Jeng Rut, sarapannya dong.

Rosmini:

Sini mbak Rut, saya bantu.


Kusmiyanto:

Eh-eh, dik Ros duduk saja di sini. Jeng Maruti sudah biasa menyiapkan sarapan sendiri. Ya kan, jeng? Dik Ros cukup memperhatikan saja dulu. Nanti kalau sudah terbiasa dengan rumah ini, baru boleh ikutan nimbrung. Jeng Rut, sarapannya mana?


Maruti:

Sebentar! Ini juga baru selesai.


Kusmiyanto:

Jangan lupa susunya.


Rosmini:

Saya juga susu, mbak Rut.


Maruti:

Tidak ada susu. Pagi ini tukang susunya tidak ke sini.


Rosmini:

Lho, kenapa?


Maruti:

Entahlah. Mungkin sapi-sapi betina sedang ngambek, nggak mau diperas lagi susunya.


Rosmini:

Kok jadi kayak buruh, pakai ngambek segala.


Maruti:

Ya, beda. Kalau itu mogok, bukan ngambek. Penyebabnya saja yang sama, sama-sama diperas.


Kusmiyanto:

Kalau sapi betina ngambek, kenapa tidak peras susu yang jantan saja?


Maruti:

Ya, peras saja susumu! Bisa ngga?


Kusmiyanto:

Oh… ya jelas nggak bisa dong, jeng.


Maruti:

Nah, itulah persamaannya kamu dengan sapi jantan.


Kusmiyanto:

Ya sudah, kopi saja.

Rosmini:

Saya juga, mbak.


Kusmiyanto:

Selebriti asal Surabaya, Laras Kobe, digugat cerai suaminya.” Wah, berita hangat nih. “Alasan sang suami menceraikan Kobe, begitu artis berparas cantik ini akrab dipanggil, karena hingga usia perkawinannya yang ke tiga tahun, mereka tidak juga dikaruniai anak. Menurut penuturan sang suami, Kobe-lah yang bermasalah…”


Maruti:

Sudah, ah. Pagi-pagi baca berita begituan. Baca yang lain saja. Dasar, wartawan infotainment. Orang cerai ya ditulis.


Rosmini:

Hus! Hati-hati kalau bicara soal wartawan lho, mbak. Saya ini juga wartawan.


Maruti:

Tuh kan, gampang tersinggung. Oalah… wartawan jaman sekarang…


Rosmini:

Maksud mbak Maruti ini apa, sih?


Maruti:

Maksud saya, apa tidak ada berita yang lebih berbobot dari sekedar berita perceraian seorang artis yang baru satu dua kali nongol di TV. Misalnya, berita tentang artis-artis berprestasi kek, apa kek…


Kusmiyanto:

Sudah… sudah, jangan berdebat. Aku baca berita yang lain saja. “Artis papan atas Naya Titania diceraikan suaminya yang juga seorang artis terkenal, Raymond A. S., justru karena banyak anak. Sebab, dari sekian banyak anaknya, ditengarai ada beberapa yang bukan buah dari Raymond, melainkan…”


Rosmini:

Hus! Wah, ngacau betul wartawan itu. Padahal, seminggu lalu saya wawancara dengan mereka berdua untuk rubrik profil majalah saya. Mereka itu keluarga bahagia.


Maruti:

Hemm… ya itu, jurnalisme amburadul.


Kusmiyanto:

Jeng Rut… Ya sudah, baca ini saja…


Rosmini:

Nggak usah dibaca, kalau hanya akan menimbulkan perdebatan.


Maruti:

Lho, kenapa tidak?


Kusmiyanto:

Dik Ros tidak perlu khawatir. Wong ini cuma berita tentang komersialisasi pendidikan yang terjadi di U-P-…

Maruti dan Rosmini:

Hus!



BABAK III

Dumilah:

Wah, seru ya tingga di sini. Ramai. Aku senang banget lho, mas.


Kusmiyanto:

Betul begitu dik Milah? (Dumilah mengangguk) Ya, syukur kalau begitu. Sebagai istri yang paling muda, kamu wajib menghormati istri-istri yang lebih tua. Ros, sarapannya mana?


Maruti:

Dik Milah ini aneh. Tinggal serumah sama istri-istrinya mas Kusmiyanto kok malah senang.


Dumilah:

Iya dong. Pada dasarnya, saya tidak suka kesepian mbak Mar, eh… sori, mbak Rut. Dulu waktu masih tinggal di rumah kontrakan, uih… sepi banget. Untungnya, mas Kus sering mampir ke sana.


Maruti:

Oh… begitu…


Rosmini:

Dasar aneh!


Dumilah:

Lho, apanya yang aneh? Memangnya, selama ini mbak Rut dan mbak Ros tidak bahagia tinggal bersama di sini? (Rosmini dan Maruti hanya terdiam) Terus, kenapa mau dipoligami?



Rosmini:

Kamu sendiri, kenapa mau dipoligami?


Dumilah:

Ah, alasan itu tidak penting. Yang penting, saya senang tinggal bersama di sini. Ramai… seru… bisa, keroyokan…


Rosmini:

Kelainan kamu!


Kusmiyanto:

Ah… sudahlah! Kita semua kan sudah sepakat. Ros, mana sarapannya?


Rosmini:

Sekali-sekali ambil sendiri dong!


Maruti:

Iya, biasa main perintah saja!


Dumilah:

Ya sudah, saya saja yang menyiapkan sarapan buat mas Kus.


Maruti dan Rosmini:

Setuju!


Kusmiyanto:

Minta susu, dik Milah.


Dumilah:

Beres. Aduh, susunya habis mas Kus. Kopi saja ya?


Kusmiyanto:

Ya, apa saja deh. Sekalian rotinya.


Dumilah:

Wah, rotinya juga habis, mas.


Kusmiyanto:

Ya sudah, minum kopi saja kalau begitu. Nggak usah sarapan. Agak cepat dong.


Dumilah:

Nih, kopinya.


Kusmiyanto:

Terima kasih. Duh! Kok pahit sih?


Dumilah:

Ups, sori. Lupa kasih tahu. Gulanya juga habis.




BABAK IV


Kusmiyanto:

Edy…


Edy:

Ya, Pak Kus.


Kusmiyanto:

Sini.


Edy:

Ada apa, pak?


Kusmiyanto:

Sarapan?


Edy:

Aduh, terima kasih. Saya sudah sarapan.


Kusmiyanto:

Lho, bujangan kayak kamu gini, ya ada juga to yang menyiapkan sarapan?


Edy:

Jangan salah, pak. Meski bujangan, saya kan doyan jajan.


Kusmiyanto:

Oh… nakal kamu!


Edy:

Maksud saya, kalau sekedar sarapan, ya tinggal nongkrong di warungnya Sumini to, pak.


Kusmiyanto:

Kalau begitu, saya buatkan kopi saja ya?


Edy:

Kok repot-repot, pak. Tapi… boleh deh.


Kusmiyanto:

Nih, kopinya.


Edy:

Terima kasih, pak. Wah, kopi buatan Pak Kus pas banget rasanya. Dahsyat!


Kusmiyanto:

Kusmiyanto… Eh, tahu nggak. Ya gara-gara kopi buatanku ini, Maruti, Rosmini dan Dumilah, kecantol jadi istriku. Cuma, cara penyajiannya saja yang beda.


Edy:

Beda bagaimana, pak?


Kusmiyanto:

Kalau buat kamu, saya sajikan secara sederhana saja. Ya, seperti ini. Kalau buat mereka, saya sajikan selepas… kelon…


Edy:

Pak Kus ini lho, ada saja…


Kusmiyanto:

Nanti kalau sama istrimu juga harus begitu, Ed. Supaya…


Edy:

Supaya langgeng ya, pak?


Kusmiyanto:

Nggak. Ya, supaya bisa… poligami!


Edy:

Oalah Pak Kus… Pak Kus.


Kusmiyanto:

Tapi… sampai dengan istri yang ke tiga, saya kok masih merasa gelisah ya, Ed.


Edy:

Lho, kenapa, pak?


Kusmiyanto:

Ketiga-tiganya tidak mampu memberikan aku anak. Padahal, alasan aku berkali-kali menikah, karena istri-istriku tidak kunjung memberikan aku anak. Jangan… jangan… ada yang salah dengan aku ya, Ed.

Edy:

Apa tidak coba periksa ke dokter, pak?


Kusmiyanto:

Untuk apa? Aku ini keturunan keluarga besar lho, Ed.


Edy:

Ya, kan tidak ada salahnya mencoba. Eh… begini saja. Saya punya ramuan mujarab, dari Arab. Mungkin ini bisa membantu.


Kusmiyanto:

Mau… mau, Ed.




BABAK V


Dumilah:

Pagi benar mas Kus berangkat. Tumben nggak sarapan. Mobilnya dipakai, ya?


Rosmini:

Ya.


Dumilah:

Aduh… padahal hari ini saya harus mengantar beberapa berlian ke pelanggan-pelanggan.


Rosmini:

Eh, suami kita itu lho, punya tampang pas-pasan, pekerjaannya nggak jelas, body kelebihan, tapi kalau minta makan, duh… macam-macam. Merepotkan.


Dumilah:

Bukan cuma soal makanan saja minta macam-macam. Gayanya juga macam-macam. Maunya sih, kayak yang di film-film gitu. Katanya biar variasi. Kalau tiba-tiba mengi, stroke, bagaimana?


Maruti:

Aduh… memangnya semalam kamu diapain saja sih, Mil?


Dumilah:

Gitu kok ikut trend. Kemauan sih oke, tapi kemampuannya itu lho. Ya, Cuma seperti mengedipkan mata. Blep… pyek… rampung deh. Kan jadi ngedrop, mbak.


Rosmini:

Kalau sampai sekarang kita tidak juga memberikan anak, jangan-jangan… dia bakal kawin lagi. Lho... lho... tapi kalo dia mau kawin lagi, mau kawin sama yang umur berapa? Mbak Maruti sudah 30 tahun, saya 27 tahun, dik Dumilah sendiri 23 tahun. jangan-jangan nanti dia cari janda beranak dua. Terus... kita manggilnya bagaimana? Mbakyu? Bude? Tante? Ah... ruwet. Terus, bagaimana mbak Maruti?


Maruti :

Kalo begitu, sudah saatnya kita merapatkan barisan untuk memboikot mas Kus. Enak saja. Lagi pula, kita kan belum pasti nggak bisa ngasih anak. Jangan-jangan malah dia yang...





BABAK VI


Istri-istri mulai saling melempar kewajiban melayani Kusmiyanto. Pola pengadeganan bebas.



BABAK VII


Suasana sarapan pagi yang dingin. Masing-masing tidak saling berbicara. Begitu Kusmiyanto memulai pembicaraan, semua istri mengakhiri sarapan dan berangkat ke kantor. Pengadeganan bebas.



BABAK VIII


Ruang lamunan tokoh-tokoh, dimana masing-masing pemain mengeksplorasi panggung menjadi simbol kesendirian para tokoh. Pengadeganan bebas.





BABAK IX


Kusmiyanto:

Selamat pagi, istri-istriku! Wah, hari ini tampak ceria semua.


Dumilah:

Iya, mas Kus. Kami...


Rosmini:

Kami punya kejutan buat mas Kus.


Kusmiyanto:

Kejutan? Wah, apa itu? (istri-istri tersenyum, saling menatap satu sama lain, sambil menunjukkan perut masing-masing) Apa? Betul begitu? (Kusmiyanto mengekspresikan kegembiraan hatinya. Tiba-tiba terdengar dering telepon) Halo, selamat pagi! Betul, saya sendiri. Oh... dokter Prya. Bagaimana, dok? Apa? Tapi, tidak mungkin. Dokter tidak salah diagnosa? Jadi... saya... steril... (Edy masuk, disambut istri-istri dan langsung dilayani bak suami).

Tuesday, December 12, 2006

Tarian Jiwa

TARIAN JIWA

karya duet Iin dan maria

( Lampu menyorot siluet ) Pada siluet berbingkai pigura kuno terdapat 2 sosok bayangan wanita yang sedang menari dan berteriak ( “ Aaaaaaah... aku bosan dengan semua ini” ) Mengalun irama musik R&B atau sejenisnya yang mengiringi wanita itu hingga tiba2 tariannya mulai terlihat aneh dengan gerakan-gerakan seperti orang kesetanan, mencekam, menakutkan.

( Di depan siluet terdapat kursi panjang mengarah ke siluet )

Datang dari penonton dengan membawa senter dua sosok manusia yang menyaksikan adegan itu dan mengamati gerakan demi gerakan siluet sambil berbisik-bisik.

( Kerampakan dipadu gerakan – gerakan )

Orang 1

“Eeeh Sssstt.... Lihat ada yang bergerak-gerak ” ( Wajah penasaran sambil menatap orang 2 )

Orang 2

“Ooi....Goyangannya.....Tubuhnya....Gerakannya menjeratku dalam fantasi tak berbatas , Woou erotis” ( Terbelalak kagum seperti sudah masuk dalam fantasinya sendiri )

Orang 1

“Hey...!!!Apa yang telah sembunyikan dari balik bingkai itu hingga layaknya kau tersihir akan pesonanya.” ( Jengkel, cemburu bercampur menjadi satu )

Orang 2

“Hua...ha....ha...Gila...aaa ( Tertawa terpingkal-pingkal tanpa memperdulikan Orang 1 ). Benar-benar dapat membangunkan emosi.”

Orang 1

“Iya...hingga kaupunmemandang tak berkedip apalagi menghitamkan pesona mereka dikelopak matamu.”

Orang 2

Huuss....Berisik!!! Kau selalu mengganggu dalam keterpulasanku saat dibuai rembulan”

Orang 1

“Eeh...Ingin kukuasai malam dan kurangkul rembulan yang selalu saja bersinar itu.”

Orang 2

“Ha..ha..ha..( Tertawa ) Kau iri pada mereka karna tubuhmu mirip buntelan” ( Sambil sinis )

Orang 1

“ Apa...?!? Buntelan kau bilang ?!. ( Marah )

Orang 2

Hua...ha...ha...( Ngakak ) Hua...ha...ha...ha...ha...( Sambil bertingkah mengejek )

Orang 1

“ Heh...( Marah ) Perlu kau tau pesonaku tergambar dalam setiap bait demi bait puisi termegah dalam sanubari para pujangga ( Sambil ikut bergerak bersama orang ke 2 menguasai panggung )

Orang 2

“ Kebimbanganku mendekap pada kejijikan, menghantarku berpulang diatas asmara kebencian yang telah kau putar melalui nadi – nadi darah yang mengalir “

Orang 1

( Marah, tersingung) “Oooh...Tega sekali kau bilang begitu”

Kemudian tiba-tiba tubuh Orang 1 bergerak-gerak. memukul Orang 2. Setelah duduk dia bangkit dari kursi panjang, Orang 1 membalas, terjadi explorasi dan bermain kerampakan dengan kursi panjang seperti berdialog tapi mengunakan gerakan tubuh( Gerakan seperti pertengkaran anjing dan kucing dengan diiringi erangan kucing dan longlongan anjing).

Tiba-tiba datang wanita memakai gaun kuno memasuki panggung (Diiringi musik yang mencekam, lampu yang mati nyala)

Wanita

“Eeeeeh...Kenapa kalian berdua bertengkar??? Seperti anjing dan kucing saja, seharusnya kalian saling menyayangi.”

( Berusaha melerai )

Orang 1 dan 2 kaget dan terhenti sambari mengamati wanita itu dengan detail, melotot seperti tidak suka ada yang mencampuri.

Orang 1

“Siapa kau?!?Aku belum melihatmu sebelumnya??”

Orang 2

“Aah....Persetan....dengan siapa dirimu. Kenapa kau campuri urusanku??”

( Menunjukan sikap tidak suka )

Wanita

“Aneh....kalian kulihat dari tadi seperti anjing dan kucing. Apakah aku salah melerai kalian?”

Orang 1 dan 2

“Tidak!!! (Membentak) Tapi kau telah menggangu urusan kami”.

Wanita

“Menganggu? Aneh anak muda zaman sekarang. Apakah aku salah melerai kalian berdua!!! (Sambil menangis dan teringat akan masa mudanya). Seharusnya kalian memberikan yang terbaik untuk bangsa ini, menaburkan cinta untuk jagat raya ini. Bukannya bermain api yang membara dan mencoba untuk meledakkan sesuatu dengan kepalan – kepalan kalian . Kalian bukanlah musuh yang berperang dengan lidah ataupun dengan membenci. Memang aku sudah usang dan dimata kalian aku adalah penggangu, namun aku pernah juga melewati hidup.( Mulai menangis ) Dan ada yang kusesali.” ( Seperti ada segurat penyesalan yang dalam )

Orang 1 dan 2

“Apa....melewati hidup??”( Sambil berhadap-hadapan dengan muka heran )

Wanita

“Aku menyesali! Kenapa aku dulu, tidak penuh cinta dan hanya mementingkan materi saja, sehingga aku hidup sendiri sampai tua lapuk tak berdaya.....”

Orang 1

“Tua??? Tubuhmu masih muda dan masih segar bagai apel ranum yang baru dipetik.”

Wanita

“Aku..........” ( Menangis )

Suasana tiba-tiba hening, lampu mulai redup dan hawa yang mencekam membuat bulu kuduk berdiri. Hingga didepan kedua orang tersebut terlempar sebuah poster yang mengisyaratkan bahwa wanita itu sudah tidak ada. Foto-foto dan poster yang sudah usang.

Saksikan Penari Terbaik & Cantik

SOEROBJO

di Galeri Seni Soerobdjo

23 nov 1877

Orang 1 dan 2

“Aahh..aahh...ada sesuatu yang aneh...Sepertinya......Aaah...”(Ketakutan, tergugup –gugup menyadari bahwa wanita itu ternyata dari dunia lain. Diiringgi musik yang makin mencekam menunjukan ke-ngerian)

Siluet kembali menyala dan dua sosok wamita menari-nari, sambil diiringi alunan musik gamelan dan sorakan pengemar, bertepuk tangan meriah (Seting kembali ke masa lalu, mengambarkan kejayaan wanita itu).

Lampu mati sejenak, kemudian musik berganti aliran R&B atau Hip-hop dengan DJ Performance, menandakan zaman telah berubah, tiba-tiba datang pemuda dengan dandanan rapi

Pemuda

(Sambil menggerutu) “Zaman telah dikotori budaya barat, banyak yang imitasi. Bangsa sudah kehilangan jati diri budaya. Kini tak lagi ada senyum yang tertebar diantara kepala – kepala nomer satu. Inilah evolusi dari kemunafikan para setan. Inilah perubahan dari mereka yang menanam serbuk – serbuk pembius dan menuai berjuta tangis para buyung dan alirkan kejernihan sungai merah dari mereka para jejaka neraka yang mencetak piringan hitam tentang tubuh mereka sendiri, dan mereka para cecunguk pengecut melempar berjuta ari – ari kedalam sumur api.”

Naskah TOHIR

Tohir Gantung Diri

Karya: Luky Hari Wibowo

Babak I

(Setting kompleks kuburan. Tali bunuh diri menggantung di pohon kamboja. Di bawahnya ada level kecil tempat Tohir berdiri. Suasana sunyi menjelang Maghrib)

Tohir:

Malam ini nanti, aku tidak akan menunda-nunda lagi. Niatku sudah bulat. Persetan dengan efek yang bakal mengimbas keluargaku dan orang-orang di sekitarku. Hati ini benar-benar sakit. Oh Leila… kini kau akan menyaksikan, betapa aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Hingga aku rela mati demi kebahagianmu. Oh, Leila… buat apa aku hidup, kalau hanya untuk melihatmu jalan berdua dengan Ismoyo. Bukankah selama ini kita telah memadu kasih? Kau sungguh mengecewakanku Leila. Dan kau Ismoyo… dasar ular bludak! Tega benar kau menikam aku dari belakang. Nanti kalau aku sudah mati, arwahku bakal gentayangan, membikin perhitungan denganmu!

(Sosok perempuan tua muncul sambil membawa sapu lidi panjang, sedang menyapu kompleks kuburan. Dia tampak ngomel-ngomel sendiri)

Mbok Jum:

(Tersentak) Heh, wong edan! Surup-surup kok ngomel-ngomel sendiri di kuburan. Ayo, pergi!

Tohir:

Eh, mbok Jum… (Gugup)

Mbok Jum:

Lho, kamu kok tahu namaku?

Tohir:

Ya, tahu. Sayakan…

Mbok Jum:

Eh… eh, kamukan Tohir, anaknya mak Romlah, bakul tempe itu kan?

Tohir:

Iya, mbok.

Mbok Jum:

Mau apa kamu? Ayo mulih! Kasihan makmu sejak tadi pagi sudah antri untuk ambil dana kompensasi BBM. Pergi sana!

Tohir:

Aduh, mbok… saya di sini itu mau…

Mbok Jum:

Mau nggrandong ya? Mau cari nomerkan?

Tohir:

Yang mau nggrandong itu siapa?

Mbok Jum:

Ya, kamu! Wiswis… nggak usah pakai gini-ginian. Ayo, mulih! Kasihan makmu.

Tohir:

Aduh, mbok… sampeyan itu bikin drop mental saya. Buyar suasana hati yang sudah saya bangun sejak tadi pagi. Rencana saya bisa kacau.

Mbok Jum:

Eh… eh… masih mau mangkir? Wis, gak usah! Sebagai juru kunci, saya tidak rela kamu nggrandong di sini. Pergi! Sana, cari tempat-tempat angker lainnya!

Tohir:

Tapi saya ini tidak sedang nggrandong, mbok…

Mbok Jum:

Sudah yo le… tobat. Lama-lama kamu bisa jadi penghuni kuburan sini, kalau masih suka nggrandong.

Tohir:

Nah, itu! Saya memang sedang mempersiapkan diri untuk jadi penghuni tempat ini, untuk selamanya.

Mbok Jum:

Se’ to le… maksudmu itu apa?

Tohir:

Mbok Jum nggak lihat, ada tali gantungan di sini? Saya ini sedang bersiap-siap untuk gantung diri.

Mbok Jum:

Edan! Bocah gemblung (kaget bukan main)

Tohir:

Saya memang gemblung. Tapi saya tidak edan. Saya sadar. Saya waras.

Mbok Jum:

Lha kenapa? Terus… makmu… Romlah… Masya allah… Aku harus cepat-cepat kasih tahu orang-orang. (bergegas)

Tohir:

Lho, mbok! Jangan! (panik)

Mbok Jum:

Tolong… tolong… Tohir mau gantung diri…

Tohir:

Aduh, kok jadi ruwet begini. Daripada rencanaku bubrah, aku eksekusi kamu!

(Dengan cepat Tohir menyergap mbok Jum, kemudian menggantungnya. Mbok Jum tewas seketika. Mayatnya dikubur di kompleks kuburan itu juga. Adegan nampak kesan saja. Berlangsung cepat dengan lampu mati-nyala)

Babak II

(Mbok Jum berdiri di bawah tali gantungan dengan cahaya merah. Dia nampak sebagai arwah. Ucapan-ucapannya tak terdengar pemain-pemain lain. Tohir semakin gelisah)

Mbok Jum:

Heh, Tohir! Bajigur kamu! Yang punya niatan matikan kamu, kenapa justru aku yang kau korbankan. Dasar anak muda jaman sekarang! Ngawur! Tidak bertanggung jawab! Terlahir dari bangsa apa kamu ini?

Tohir:

Aduh… mbok Jum… mbok Jum… kok jadi kamu yang mati. Dasar usil! Sudah tua, bawel!

Mbok Jum:

Tuh, lihat! Sudah membunuh, masih menyalahkan. Bocah keblinger!

Tohir:

Lihat kamu mati, aku jadi takut mati. Apa sebaiknya kuurungkan saja niatku gantung diri?

Mbok Jum:

Eh… eh… kebangetan! Jaman sekarang semakin jarang saja kujumpai ksatria di negeri ini. Yang sering muncul, justru manusia-manusia plin plan macam Tohir. Duh, gusti…

(Tiba-tiba tak terduga Leila muncul berjalan menyusuri kompleks kuburan)

Leila:

Lho, mas Tohir!

Tohir:

(Kaget dan heran) Leila! Kamu… kok… ada di sini…

Leila:

Iya, mas. Kebetulan lewat. Mas Tohir sendiri ada apa di sini?

Tohir:

Saya… anu… saya… mau… eh… (Gugup)

Leila:

Mau apa mas? Kok wajahmu pucat begitu?

Tohir:

Eh… anu… saya baru saja membantu mbok Jum. Eh, maksud saya menggantikan mbok Jum yang pulang kampung. Jadi ya… kecapekan.

Leila:

Oh, ya sudah. Monggo, mas… Eh iya, saya lupa titip pesan buat mak Romlah.

Tohir:

Pesan apa ya?

Leila:

Itu lho, saya mau beli tempe lagi. Kali ini lebih banyak dari biasanya. Mau dimasak sambal tumpang. Bilang mak Romlah, besok saya ambil. Maklum, mas Ismoyo kan lagi ngidam. Untung mintanya cuma sambal tumpang. Aneh ya mas Tohir, saya yang hamil kok mas Ismoyo yang ngidam. Nanti kalau saya melahirkan, jangan-jangan dia yang kesakitan. (Tertawa menyeringai)

Tohir:

(Bengong) Lho, dik Leila hamil berapa bulan.

Leila:

Mas Tohir ini bagaimana sih. Kan sudah lima bulan.

Tohir:

Jadi…

Leila:

Lha ya itu mas Tohir, saya bersyukur sekali bisa punya anak. Setelah lima tahun menanti, ternyata baru nongol sekarang. Padahal kita berdua hampir bercerai, gara-gara sering ribut. Mas Ismoyo mengira saya ini mandul. Mas Tohir… mas…?

Tohir:

(Kaget) Eh… iya… apa? Maaf… saya…

Leila:

Ya sudah, mas. Saya pulang dulu. Nanti kemalaman. Sudah ditunggu mas Ismoyo di rumah. Pesan saya jangan lupa ya. (Pergi berlalu)

Tohir:

Jadi… dia… sudah… hamil… Leila… sudah… lama… menikah... Terus… sebenarnya… kapan kita pacaran… Bukankah… Ya, ampun… aku… (linglung)

Mbok Jum:

Itu tandanya kamu sudah tidak waras. Otakmu itu sudah tidak jalan, Tohir… Tuh, akibatnya terlalu banyak dan lama berkhayal. Jadi bingung menentukan mana yang nyata dan tidak nyata.

Tohir:

Jadi selama ini…

Mbok Jum:

Modar wae! Heh, Tohir! Kembali saja ke rencana semula. Kek! Gantung diri!

Tohir:

Aduh mak… tolong aku mak… mbok Jum… aku…

Mbok Jum:

Oalah… Tohir… Tohir… Kowe iku kesurupan opo to le… kamu sudah membunuh aku, generasi tua yang kau anggap bawel. Sekarang, kamu kok minta tolong aku.

Babak III

(Seluruh ruang panggung gelap. Hanya level tempat Tohir dan mbok Jum yang menyala. Warna netral saja)

Tohir:

Leila… sebenarnya apa yang telah terjadi diantara kita? Apa yang telah terjadi antara kau dan Ismoyo? Atau… diantara kita sebenarnya tidak pernah terjadi apa-apa? Itu hanya cerita usang masa kanak-kanak, yang kemudian terbang melayang, mengangan… Lantas siapa Ismoyo? Dia hadir bak petir di siang bolong, memecah kesunyian alam khayalku, memperjelas potret diriku, yang hanya terlahir sebagai anak bakul tempe

Mbok Jum:

Heh, Tohir! Dasar anak tidak tahu rasa bersyukur! Kau dibesarkan lewat butiran-butiran kedelai yang ditempa, diinjak-injak, hingga dinikmati bangsamu!

Tohir:

Mak, andai kau bukan bakul tempe…

Mbok Jum:

Terus bakul apa? Bakul tanah, rumah, mobil, saham, solar, pulau, nuklir… bakul kehormatan… dodol bongsomu dewe? Kamu sudah gendeng! Bahkan kamu sudah mati!

(sayup-sayup terdengar orang-orang ramai dari kejauhan. Tiba-tiba mendekat. Lampu menyala keseluruhan. Ternyata rombongan pengantar jenazah yang hendak menguburkan mak Romlah)

Orang 1:

Kasihan mak Romlah. Sudah tua masih ikut-ikutan antri pembagian dana kompensasi BBM. Akibatnya…

Orang 2:

Tadi itu, mak Romlah sesak nafas karena berdesak-desakan?

Orang 1:

Bukan hanya karena itu. Tapi juga terinjak-injak. Oalah mak Romlah… mak Romlah… malang betul nasibmu.

Orang 2:

Mana anak-anak laki-laki satu-satunya tidak jelas kemana rimbanya. Tohir… Tohir… ciloko kamu!

(Tanpa diketahui orang-orang Tohir menangis sendiri, meronta-ronta)

Tohir:

Mak… aku di sini… Kenapa semuanya tidak ada yang mendengar? Hei… orang-orang…

Mbok Jum:

Ola opo to le… pakai nangis geruh-geruh segala. Eksistensimu itu antara ada dan tiada. Terdengar dan tidak terdengar. Sebab kamu itu pemuda yang nanggung. Serba magak. Mati ora… urip yo ora…

Tohir:

Mak… lebih baik aku gantung diri saja. Biar bisa ketemu kamu mak. Aku ingin mencium kakimu. Aku juga ingin ketemu mbok Jum. Ingin minta maaf.

Mbok Jum:

Oalah le… le… opo yo iso? Lagi pula mau mati saja kok banyak keinginan. Bocah kok sakarepe dewe!

(Tohir masih berteriak-teriak memanggil mak Romlah dan mbok Jum. Dan masih mengutarakan keinginan-keinginannya yang lain-bisa dikenbangkan. Lampu redup perlahan, kemudian mati)

Tohir:

Mak… mbok Jum… kenapa gelap di sini? Dimana kalian?

Selesai