Monday, February 19, 2007

Diklat 2006/2007

masih tersisa senyum manis dihimpit ragu
mampukah bertahan dengan manusia manusia sepi
sorak sorai tidak boleh selesai
dengan darah yang tinggal setetes
nadi harus terus bergetar

selalu siap terima malu dan tamu walau kami
buruk rupa
buruk ucap
buruk laku

setidaknya lebih baik daripada
tak ada ucap
tak ada laku
hanya mengerang keluh



Wednesday, January 10, 2007

Kembang Gula

oleh: Tri indah

“Sudah, lebih baik kita break saja!” teriak Aktor kepada Jelita. “Apa? Break? Maksudmu? Masa pacaran pake break, Tor?” tanya Jelita dengan tercengang. ”Pokoknya kita introspeksi diri masing-masing deh. Aku capek bertengkar melulu sama kamu, ngerti?” jawab Aktor dengan ketus. ”Berapa lama?” tanya Jelita pelan. ”Entahlah. Sampai salah satu dari kita capek dan berhak memutuskan hubungan!” ujar Aktor dengan entengnya. ”Berarti, kita sekarang putus tor?” tanya Jelita sekali lagi, sambil menyeka ingusnya. Suaranya mulai bergetar. ”Pokoknya, break!” jawab Aktor singkat. Kali ini suara Aktor terdengar dingin dan angkuh.

Masih teringat di benak Jelita peristiwa satu bulan yang lalu, saat Aktor mambuat keputusan tentang hubungan mereka berdua. Dan sekarang, di depan matanya, ia melihat Aktor sedang naik motor berdua dengan Karen. Hati Jelita kembali miris. “Apakah ini yang dimaksud Aktor break? Apakah ini yang dimaksud Aktor introspeksi? Bisa seenaknya saja jalan berdua dengan orang lain?” tanya Jelita kepada Deden, temannya yang selalu setia mendengar keluh kesahnya. ”Sabar Li. Mungkin Karen sama Aktor sedang mengurus surat-surat untuk pertunjukan yang akan datang. Bukannya mereka berdua memang yang bertanggung jawab?” hibur Deden. ”Iya. Tapi apa harus mesra seperti itu? Dan ketika aku iseng tanya sama Nina, memang mereka berdua mesra banget. Bukan mesra seperti teman Den,” jawab Jelita dengan suara bergetar. Suara yang khas dari seorang cewek saat menahan tangis. ”Ah, sudahlah. Nanti juga pasti jelas hubungan kalian berdua seperti apa. Tenang, bu,” sambil tersenyum, Deden kembali menghibur sahabatnya. “Tapi Den, aku nggak kuat melihat mereka berdua terus-terusan. Belum lagi gosip yang nggak enak di kupingku. sakit rasanya liverku ini,” rintih Jelita pada Deden. ”Udah, udah. Jangan terlalu dipikirin. Lama lama nanti malah kamu yang masuk rumah sakit. Wah, aku yang repot jadinya. Siapa yang bantuin aku? Wis, wis, cup ya, anak manis,” Jelita tersenyum mendengar bujukan sahabatnya. Seolah-olah Jelita masih balita yang menyusu pada ibunya. ”Ha… ha… Enak aja. Emangnya aku keponakanmu, yang bisa dibujuk pake permen Den?” teriak Jelita tepat di telinga Deden, sambil menggelitiki pinggang sahabatnya yang sedang mengaduk kopi di cangkir. Kontan saja Deden kaget. Sendok pengaduk kopi pun melayang kearah Jelita yang sudah lari menjauh darinya sambil tertawa. Dalam hati, Deden sedikit lega melihat senyum Jelita. Paling tidak dalam satu hari ini ia berhasil membuat tersenyum kembali sahabatnya itu.

“Jalan, yuk?” tanya Aktor ketika menelepon Jelita pada suatu hari. ”Jalan kemana?” Jelita menjawab dengan malas. ”Kemana aja. Pokoknya jalan,” kata Aktor. ”Jalan aja sama Karen. Toh kemarin aku lihat kalian berdua sedang asyik nongkrong. Di… Rumah Kopi kan?” tanya Jelita sambil meremas-remas kabel telepon. ”Maksudnya apa sih Tor? Seperti itu maksud kamu introspeksi? Bisa jalan berdua dengan cewek lain? Kalo memang udah nggak mau nerusin hubungan kita lagi, ya udah, jangan bikin aku menggantung. Jangan egois!” Jelita nerocos dengan menggebu-gebu. ”A… a… aku nggak jj… jalll… an sama Karen kok. Tahu darimana kamu?” kata Aktor terbata-bata. ”Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Kemarin aku kebetulan lewat Rumah Kopi selesai workshop tari dengan Nungki Kusumastuti di Galeri Srawung. Kamu nggak usah bohong!” kata Jelita sewot. Ia berusaha menahan air mata yang sudah mulai menggantung di pelupuk matanya. Ia malu karena sejak tadi ibunya mencoba curi-curi pandang memperhatikan tingkahnya. ”Tapi aku bisa jelaskan Li. Aku sama Karen kemarin habis ngambil poster untuk disebar ke kantong-kantong kesenian, terus mampir untuk beli minum, udah itu aja, nggak lebih kok,” kilah Aktor. ”Tuh kan, akhirnya kamu keceplosan kalau memang keluar sama Karen. Tadi katanya kamu nggak jalan sama Karen. Mana yang benar?” teriak Jelita. Tanpa ia sadari, ibunya yang sejak tadi memperhatikannya, melotot sambil mengangkat jari telunjuknya ke mulut. Dengan nada lebih pelan, Jelita melanjutkan pertanyannya. ”Terus, lusanya kamu jalan juga sama Karen ke pertunjukan di SCC kan? Aku tahu dari temanku yang kebetulan jadi panitianya. Kamu nggak usah mungkir Tor. Aku sudah tahu semuanya. Kamu banyak mengingkari komitmen yang kamu buat sendiri. Sepertinya, kamu nggak usah ketemu aku lagi,” kata Jelita sambil menutup telepon. Ia terdiam sesaat. Kemudian menghembuskan nafas yang sempat tertahan.

Dua bulan kemudian...

“Li, Aktor datang sama Karen di technical meeting Pagelaran Seribu Seniman yang kita pegang ini. Kamu jangan kaget ya,” Deden memberitahu Jelita dengan hati-hati karena takut hati sahabatnya teriris lagi. ”Hmm…,” sahut Jelita dengan tetap memandang layar monitor. Dua bulan terakhir ini Jelita sudah banyak merenung dan berdoa. Bahkan nggak tanggung-tanggung, Jelita mencoba Sholat Istikharah demi menenangkan hatinya dan memohon petunjuk Yang Maha Kuasa tentang apa yang terbaik baginya dan Aktor. Dan sekarang Jelita pasrah.

Saat technical meeting…

“Dan nanti apabila ada yang membutuhkan informasi lebih atau membutuhkan surat, bisa menghubungi Jelita Restu Bumi atau yang biasa dipanggil Elit atau Jelita,” kata Deden menerangkan kepada peserta technical meeting, sambil menyenggol Jelita. “Oh iya, saya Jelita. Kalau butuh informasi lebih lanjut bisa menghubungi saya,” jawab Jelita tergagap karena pikirannya tertuju kepada Aktor dan Karen yang duduk diseberangnya. Jelita sudah bulat dan mantap untuk mengakhiri hubungannya dengan Aktor. Diambilnya HP, lalu mulai mengetik kata-kata perpisahan. ”Sepertinya kamu bisa jalan dan pacaran sama siapa saja Tor. Mulai saat ini kamu bebas menentukan hidup kamu sendiri. Terima kasih atas waktu yang sudah kita jalani berdua. Hubungan kita berakhir, aku mundur!” send… Aktor… Ok. Terkirimlah SMS yang Jelita buat. Tit… tit… tit… Dari seberang terdengar suara HP. Jelita hanya sanggup menahan air mata karena acara technical meeting masih berlangsung. Jelita dan Aktor sempat berpandangan. Namun hanya tiga detik Jelita mampu menatap Aktor.

Tiga hari kemudian Aktor nekat mencari Jelita di sekolahnya bahkan sampai ke kelas-kelas. Jelita tahu kalau Aktor mencarinya sebab SMS yang dikirimkan Aktor tidak dihiraukannnya. Telepon kerumahnya yang berkali-kali dan berkali-kali pula menyuruh Mak Supi mengatakan kepada Aktor kalau dia sedang… pergi latihan tarilah, sibuk ngurus pagelaran di Galeri Srawunglah, pokoknya terserah Mak Supi dia mau ngomong apa. Pokoknya Jelita nggak mau dengar suara Aktor. Tapi kini Jelita tidak bisa menghindar lagi. Jarak mereka kini hanya satu meter dan tidak ada waktu untuk berbalik menuju kantor kepala sekolah. “Akhirnya aku bisa ketemu kamu. Kemana aja? SMSku nggak nyampe? Kamu sibuk ngurus pagelaran? Apa maksud SMS kamu waktu TM, Li?” tanya Aktor nerocos dan ngos-ngosan. ”Nyampe kok. Memang lagi sibuk ngurus pagelaran. Maksudku udah jelaskan, kita udah nggak ada hubungan lagi. Ngerti bahasa Indonesiakan?” jawab Jelita pendek-pendek dan to the point. “Tapi Li…?” belum sempat Aktor bicara banyak, Jelita menyahut, ”Tor… udahlah. Kamu kembali aja ke kampus. Bukannya kamu juga lagi sibuk persiapan untuk pagelaran? Kamu dan Karen udah klop, nggak usah mikirin aku. Aku cuma anak sekolah yang lagi sibuk-sibuknya mencari pengalaman dalam membuat pagelaran besar. Kita akan berhubungan hanya sebatas kerja. Sori Tor, aku sibuk,” Jelita meninggalkan Aktor yang sedang terbengong. Dia tidak menyangka kalau Jelita sudah jauh lebih dewasa. Padahal hanya tiga bulan mereka tidak bersama-sama. Jelita memang satu-satunya anak SMA yang bisa masuk di lingkungan seniman kota karena kemampuannya dalam menari tidak diragukan lagi. Dan lebih dari itu, pengalamannnya yang sudah beberapa kali mengikuti pagelaran tari di beberapa negara, membuat Jelita bisa menjadi panitia event besar yang akan datang.

Dalam kesendiriannya, Aktor teringat pertemuan mereka berdua dulu. Aktor adalah mahasiswa jurusan teater yang seringkali latihan dan nongkrong di galeri tempat Jelita latihan menari tiap tiga kali dalam seminggu. Untuk pertama kalinya Aktor bisa betah duduk melihat latihan tari karena pada waktu itu ia melihat Jelita yang sedang luwes-luwesnya menarikan Tari Bedoyo. Jelita begitu mungil, manis, tapi terlihat sekali kalau cewek itu adalah sosok yang punya bakat besar dan tekat kuat. Sejak saat itulah Aktor semakin sering nongkrong dan menungu Jelita pulang latihan. Dan selama satu bulan pendekatan, dia berhasil menyunting Jelita untuk jadi kekasihnya. tapi setelah tiga setengah tahun menjalin hubungan, Jelita memutuskan hubungan. Itu juga karena Aktor yang pertama kali mengusulkan mereka break. Aktor bingung. Tiba-tiba dia teringat Deden teman kuliahnya yang kebetulan adalah sahabat Jelita di lingkungan seniman kota. Aktor segera berlari menuju sepeda motornya dan meninggalkan sekolah Jelita untuk menemui Deden untuk meminta bantuannya.

“Den… Deden…,” teriak Aktor ketika memasuki komplek Unit Kegiatan Mahasiswa di kampusnya. ”Apa sih, teriak-teriak dari ujung komplek sampe kesini. Kayak orang kesetanan aja. Ada apa ?” tanya Deden. ”Aku minta bantuan kamu untuk meluluhkan hati Jelita. Den, help me my friend… Kamu kan sahabat terbaiknya Jelita, plis…,” ujar Aktor memohon. Nafasnya masih ngos-ngosan. ”Nggak ah. Kamu sekarang baru merasa kehilangan Jelita. Kemana aja kamu Tor? Nggak sadar kalo udah punya pacar yang segitu baiknya, sabar, pengertian, punya segudang prestasi lagi. Kalo Jelita masih agak kekanak-kanakan mestinya kamu paham. Dia baru kelas dua SMA. Sebentar lagi aja naik kelas tiga. Kamu yang udah mulai dewasa mestinya bisa membimbing dia. Bukannya ngajak break segala. Kalo Jelita mau, dari dulu dia udah mutusin kamu. Nggak sedikit anak yang nembak dia. Ingat kan teman-teman dari Bandung yang sempat ngejar Jelita sampe ke Surabaya? Sa’i anak seni rupa teman kita, yang sekali melihat Jelita langsung berani nembak. Aria anak Solo, yang sempat kerjasama bareng Jelita terus langsung kelimpungan waktu ditinggal pulang ke Surabaya, ingat? Terus… Galih… Rako… Arnet anak balet… Randu si seniman sableng kampus kita… ah… pokoknya banyak. Mestinya kamu jauh lebih tahu kan kalo Jelita itu kembangnnya seniman muda, dari yang sok seniman, seniman sableng, sampe yang benar-benar seniman mumpuni, mengharapkan Jelita jadi belahan hati mereka. Kamu yang udah jadi pacarnya malah menyia-nyiakan Jelita. Goblok lu… Pokoknya aku nggak mau bantuin kamu karena aku tahu gimana menderitanya Jelita saat itu,” jawab Deden panjang lebar dengan entengnya, sambil rokok tidak lepas dari mulutnya dan tangan yang terus mengetik di keyboard komputer. ” Urus sendiri deh, kamu kan udah jago sama perempuan. Buktinya, Karen bisa luluh sama kamu. Gih sana,” ujar Deden cuek. “Kok tega sih Den. Kamu kan teman lama aku juga. Bantu kek… Aku sama Karen nggak ada apa-apa,” Aktor mengiba. “Dasar muka monyong lu! Aku pernah tanya Karen, katanya kamu udah nembak dia, maksudnya apa? Jelita mau ditaruh dimana? Ban serep? Aku nggak rela Tor, kalo Jelita kamu buat bulan-bulanan. Tahu nggak gara-gara ada masalah sama kamu Jelita sempat pingsan waktu latihan buat pagelaran yang akan datang. Berat badan Jelita turun tiga kilo. Padahal sama mbak Sinto berat badannya harus stabil biar proporsional. Kamu tega ya… Ojo’ gendeng Tor! Kuwi ngono cah wadon. Ojo wani-wani karo wong wadon. Kuwalat kowe Tor!” kembali Deden menceritakan penderitaan Jelita meskipun sedikit dibumbui. Deden memang jagonya mendramatisir hampir apa saja.

Aktor benar-benar merasa bersalah. Dia ingin sekali kembali pada Jelita. Keesokan harinya Aktor sudah menunggu di depan rumah Jelita seperti yang ia biasa lakukan sebelum-sebelumnya untuk mengantar Jelita ke sekolah. Jelita membuka pintu pagar rumahnya dan kaget melihat Aktor yang dengan senyum termanisnya mengucapkan, “Selamat pagi. Berangkat sekolah ya? Bareng, yuk?” ”Dari jam berapa nongkrongin rumah orang?” tanya Jelita. ”Jangan sewot gitu dong, biasanya kan juga seperti ini?” kata Aktor. ”Aku berangkat naik angkot. Terima kasih sudah nunggu aku dari tadi. Aku berangkat,” jawab Jelita sambil melangkahkan kaki menuju gang depan rumahnya untuk menunggu angkot. ”Lho, Li… Aku antar ya? Apa gunanya aku nunggu kamu dari tadi?” tanya aktor sambil berusaha mengejar Jelita. ”Lho, aku kira kamu cuma nunggu aku keluar dari rumah aja, aku nggak pernah minta kamu untuk mengantar aku pergi sekolah kan? Lagian, aku udah biasa kok berangkat dan pulang sekolah sendiri tanpa diantar,” dengan entengnya Jelita menjawab sambil terus melangkahkan kaki ke ujung gang sementara Aktor tidak mampu menjawab ocehan Jelita.

Pagelaran Seribu Seniman…

Aktor di deretan penonton. Ia melihat Tari Bondan di panggung dan terkesima. Selain koreografinya yang menarik dan indah, pastinya seorang gadis mungil dengan penuh penghayatan sedang menari tunggal di tengah panggunglah yang membuatnya terkesan. Ya, siapa lagi kalau bukan Jelita. Sudah lima bulan Aktor berpisah dengan Jelita. Dia masih merasakan kasih sayang yang amat dalam terhadap gadis mungil itu. Aktor tidak berhasil merebut hati kekasihnya yang sudah terlanjur sakit. Kini Aktor hanya bisa melihat Jelita dari panggung ke panggung, karena nama Jelita semakin berkibar menjadi penari muda berbakat. Sedangkan dia tetap menjadi mahasiswa jurusan teater yang tidak ada kemajuan. “Terus berkarya Jelita Restu Bumi. Suatu saat, kamu akan jadi seniman yang berpengaruh…,” gumam Aktor, kemudian pergi meninggalkan gedung pertunjukkan dengan langkah berat. Pikirannya dipenuhi gambar-gambar masa lalunya dengan Jelita. Gambar-gambar itu saling berkelebatan dan tidak ada habisnya.

Jelita di balik panggung…

“Terima kasih tetap mau melihat tarian-tarianku, Tor… Aku harap kamu bisa menyadari apa artinya kesetiaan dan cinta… Terima kasih…,” kata Jelita selepas menyeka keringatnya di wajahnya dengan handuk.

Teater Crystal, 16 Oktober 2006

Crystal Production

Tuesday, December 12, 2006

Ibu dari Segala Ibu

Ibu Dari Segala Ibu

Oleh: Luky Hari Wibowo

Ibuku...

Delapan belas tahun silam

Saat bapak dipenjara

Menenteng keempat anaknya

Menyusuri jalan gelap

Menjadi babu

Dari rumah ke rumah

Saudara-saudara bapakku

Ibuku...

Sebelas tahun silam

Saat bapak terseret-seret

Tak bisa tersenyum

Karna pahit dan getir

Tanpa stelan layak

Dan riasan di wajahnya

Berjalan tak tentu arah

Ibuku...

Di tahun-tahun sebelumku

Entah apa lagi

Hanya kisah-kisah haru kudengar

Dari orang-orang sebelumku

Mulai kisah cita-citanya yang kandas

Keperawanannya yang terkoyak

Dan kepasrahan terhadap nasib

Ibuku...

Dari tahun ke tahun

Saat hidup bersama bapakku

Tak selalu bernafas lega

Hanya bisa memeluk keempat anaknya

Membesarkan hati keempat anaknya

Menyerahkan jiwa dan raganya

Untuk suami dan keempat anaknya

Ibuku...

Tahun ini

Ditinggal mati bapakku

Tidak sedih tidak bahagia

Hanya cukup bernafas lega

Hidup di puing-puing reruntuhan

Sisa-sisa buah karya bapakku

Bapak yang kami cintai

Surabaya, 17 Nopember 2006

Buat mama, kakak-kakak, adik dan papa di surga

Begini saja Kita Berpikir Tentang Tuhan

Begini Saja Kita Berpikir tentang Tuhan

Oleh: Luky Hari Wibowo

Dia tidak bercerai

Dia tidak menyatu

Dia menyertai

Tidak untuk dicari

Tapi untuk dikenali

Surabaya, 18 Nopember 2006

Tarian Jiwa

TARIAN JIWA

karya duet Iin dan maria

( Lampu menyorot siluet ) Pada siluet berbingkai pigura kuno terdapat 2 sosok bayangan wanita yang sedang menari dan berteriak ( “ Aaaaaaah... aku bosan dengan semua ini” ) Mengalun irama musik R&B atau sejenisnya yang mengiringi wanita itu hingga tiba2 tariannya mulai terlihat aneh dengan gerakan-gerakan seperti orang kesetanan, mencekam, menakutkan.

( Di depan siluet terdapat kursi panjang mengarah ke siluet )

Datang dari penonton dengan membawa senter dua sosok manusia yang menyaksikan adegan itu dan mengamati gerakan demi gerakan siluet sambil berbisik-bisik.

( Kerampakan dipadu gerakan – gerakan )

Orang 1

“Eeeh Sssstt.... Lihat ada yang bergerak-gerak ” ( Wajah penasaran sambil menatap orang 2 )

Orang 2

“Ooi....Goyangannya.....Tubuhnya....Gerakannya menjeratku dalam fantasi tak berbatas , Woou erotis” ( Terbelalak kagum seperti sudah masuk dalam fantasinya sendiri )

Orang 1

“Hey...!!!Apa yang telah sembunyikan dari balik bingkai itu hingga layaknya kau tersihir akan pesonanya.” ( Jengkel, cemburu bercampur menjadi satu )

Orang 2

“Hua...ha....ha...Gila...aaa ( Tertawa terpingkal-pingkal tanpa memperdulikan Orang 1 ). Benar-benar dapat membangunkan emosi.”

Orang 1

“Iya...hingga kaupunmemandang tak berkedip apalagi menghitamkan pesona mereka dikelopak matamu.”

Orang 2

Huuss....Berisik!!! Kau selalu mengganggu dalam keterpulasanku saat dibuai rembulan”

Orang 1

“Eeh...Ingin kukuasai malam dan kurangkul rembulan yang selalu saja bersinar itu.”

Orang 2

“Ha..ha..ha..( Tertawa ) Kau iri pada mereka karna tubuhmu mirip buntelan” ( Sambil sinis )

Orang 1

“ Apa...?!? Buntelan kau bilang ?!. ( Marah )

Orang 2

Hua...ha...ha...( Ngakak ) Hua...ha...ha...ha...ha...( Sambil bertingkah mengejek )

Orang 1

“ Heh...( Marah ) Perlu kau tau pesonaku tergambar dalam setiap bait demi bait puisi termegah dalam sanubari para pujangga ( Sambil ikut bergerak bersama orang ke 2 menguasai panggung )

Orang 2

“ Kebimbanganku mendekap pada kejijikan, menghantarku berpulang diatas asmara kebencian yang telah kau putar melalui nadi – nadi darah yang mengalir “

Orang 1

( Marah, tersingung) “Oooh...Tega sekali kau bilang begitu”

Kemudian tiba-tiba tubuh Orang 1 bergerak-gerak. memukul Orang 2. Setelah duduk dia bangkit dari kursi panjang, Orang 1 membalas, terjadi explorasi dan bermain kerampakan dengan kursi panjang seperti berdialog tapi mengunakan gerakan tubuh( Gerakan seperti pertengkaran anjing dan kucing dengan diiringi erangan kucing dan longlongan anjing).

Tiba-tiba datang wanita memakai gaun kuno memasuki panggung (Diiringi musik yang mencekam, lampu yang mati nyala)

Wanita

“Eeeeeh...Kenapa kalian berdua bertengkar??? Seperti anjing dan kucing saja, seharusnya kalian saling menyayangi.”

( Berusaha melerai )

Orang 1 dan 2 kaget dan terhenti sambari mengamati wanita itu dengan detail, melotot seperti tidak suka ada yang mencampuri.

Orang 1

“Siapa kau?!?Aku belum melihatmu sebelumnya??”

Orang 2

“Aah....Persetan....dengan siapa dirimu. Kenapa kau campuri urusanku??”

( Menunjukan sikap tidak suka )

Wanita

“Aneh....kalian kulihat dari tadi seperti anjing dan kucing. Apakah aku salah melerai kalian?”

Orang 1 dan 2

“Tidak!!! (Membentak) Tapi kau telah menggangu urusan kami”.

Wanita

“Menganggu? Aneh anak muda zaman sekarang. Apakah aku salah melerai kalian berdua!!! (Sambil menangis dan teringat akan masa mudanya). Seharusnya kalian memberikan yang terbaik untuk bangsa ini, menaburkan cinta untuk jagat raya ini. Bukannya bermain api yang membara dan mencoba untuk meledakkan sesuatu dengan kepalan – kepalan kalian . Kalian bukanlah musuh yang berperang dengan lidah ataupun dengan membenci. Memang aku sudah usang dan dimata kalian aku adalah penggangu, namun aku pernah juga melewati hidup.( Mulai menangis ) Dan ada yang kusesali.” ( Seperti ada segurat penyesalan yang dalam )

Orang 1 dan 2

“Apa....melewati hidup??”( Sambil berhadap-hadapan dengan muka heran )

Wanita

“Aku menyesali! Kenapa aku dulu, tidak penuh cinta dan hanya mementingkan materi saja, sehingga aku hidup sendiri sampai tua lapuk tak berdaya.....”

Orang 1

“Tua??? Tubuhmu masih muda dan masih segar bagai apel ranum yang baru dipetik.”

Wanita

“Aku..........” ( Menangis )

Suasana tiba-tiba hening, lampu mulai redup dan hawa yang mencekam membuat bulu kuduk berdiri. Hingga didepan kedua orang tersebut terlempar sebuah poster yang mengisyaratkan bahwa wanita itu sudah tidak ada. Foto-foto dan poster yang sudah usang.

Saksikan Penari Terbaik & Cantik

SOEROBJO

di Galeri Seni Soerobdjo

23 nov 1877

Orang 1 dan 2

“Aahh..aahh...ada sesuatu yang aneh...Sepertinya......Aaah...”(Ketakutan, tergugup –gugup menyadari bahwa wanita itu ternyata dari dunia lain. Diiringgi musik yang makin mencekam menunjukan ke-ngerian)

Siluet kembali menyala dan dua sosok wamita menari-nari, sambil diiringi alunan musik gamelan dan sorakan pengemar, bertepuk tangan meriah (Seting kembali ke masa lalu, mengambarkan kejayaan wanita itu).

Lampu mati sejenak, kemudian musik berganti aliran R&B atau Hip-hop dengan DJ Performance, menandakan zaman telah berubah, tiba-tiba datang pemuda dengan dandanan rapi

Pemuda

(Sambil menggerutu) “Zaman telah dikotori budaya barat, banyak yang imitasi. Bangsa sudah kehilangan jati diri budaya. Kini tak lagi ada senyum yang tertebar diantara kepala – kepala nomer satu. Inilah evolusi dari kemunafikan para setan. Inilah perubahan dari mereka yang menanam serbuk – serbuk pembius dan menuai berjuta tangis para buyung dan alirkan kejernihan sungai merah dari mereka para jejaka neraka yang mencetak piringan hitam tentang tubuh mereka sendiri, dan mereka para cecunguk pengecut melempar berjuta ari – ari kedalam sumur api.”

Terlalu

TERLALU

By tantri


Arrrgggghhhhhhh………….

Aku

Bosan

Jengah

Kamar ini tak mampu

Menampung erangan

Kesakitan

Seharusnya

Puluhan tahun

Ratusan bulan

Ribuan minggu

Sampai jutaan menit

Aku habiskan

Dikamar laknat

Tapi kutak mampu

menyeret langkahku

untuk segera pergi

dari sini

seakan ada suara parau

yang memanggilku

menarikku

dengan mantera-mantera

dengan jampi-jampi

aku tak mampu mengangkat

tubuh malasku

dari ranjang reot ini

aku tak mampu mengajak

sepasang tangan ini

untuk meraih setangkup air

agar mata sembab segera terbasuh

kamar ini

terlalu

sulit untuk

di tinggalkan

terlalu

berat untuk

dilupakan

terlalu

terlalu

terlalu

Hari ini kumulai hari seperti biasanya,

tak ada yang lain

.kubangun lalu kubasuh mukaku dengan setangkup air sumur

yang kurasa lebih mempunyai rasa peri-ke-airan

daripada air made in pemerintah yang amis dan kuning di musim kemarau

dan keruh di musim hujan.

setelah air sumur yang tawar menyentuh lubang pori2 wajahku kuraih handuk

untuk menyapu bulir2 air sebelum menetes ke ubin.

huh…!

kumulai hari ini tanpa sesuatu yang berbeda.

Bekerja..bekerja..bekerja.

Kuselalu berusaha untuk nyaman melalui hari

yang ……bisa ku tebak..bakalan MEMBOSANKAN!

Yach…aku hanya anak seorang janda pensiunan guru SD

yang ga punya balungan wong sugih

itu yang selalu di sikapkan

oleh ibu-disikapkan-karena memang tidak pernah terungkap

oleh kata tapi tercontoh oleh sikap.

Terkadang aku ingin bermain tanpa bekerja,

tapi aku malu-bukan karena bermain-

tapi karena untuk bermain aku tetap butuh biaya hidup

dan sebagai manusia dewasa aku malu

untuk memintanya(lagi)

dari gaji pensiunan seorang guru SD.

Saat ini sesungguhnya aku pun masih malu

karena masih tetap numpang

makan, tidur,mandi sampai berak dan kencing

di rumah seorang janda pensiunan guru SD.

Tapi untungnya rumah beliau

bukanlah sebuah rumah warisan

dari almarhum suaminya-alias bapak saya-

tapi rumah yang telah dimilikinya sebelum menikah dengannya,

atau mungkin yang telah dimiliki jauh sebelum bertemu dengan bapakku.

Hari harus tetap berjalan dan harapan akan jadi kenyataan,

atau harapan akan jadi sesal…

hanya gerusan waktu yang akan memilih.

Naskah TOHIR

Tohir Gantung Diri

Karya: Luky Hari Wibowo

Babak I

(Setting kompleks kuburan. Tali bunuh diri menggantung di pohon kamboja. Di bawahnya ada level kecil tempat Tohir berdiri. Suasana sunyi menjelang Maghrib)

Tohir:

Malam ini nanti, aku tidak akan menunda-nunda lagi. Niatku sudah bulat. Persetan dengan efek yang bakal mengimbas keluargaku dan orang-orang di sekitarku. Hati ini benar-benar sakit. Oh Leila… kini kau akan menyaksikan, betapa aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Hingga aku rela mati demi kebahagianmu. Oh, Leila… buat apa aku hidup, kalau hanya untuk melihatmu jalan berdua dengan Ismoyo. Bukankah selama ini kita telah memadu kasih? Kau sungguh mengecewakanku Leila. Dan kau Ismoyo… dasar ular bludak! Tega benar kau menikam aku dari belakang. Nanti kalau aku sudah mati, arwahku bakal gentayangan, membikin perhitungan denganmu!

(Sosok perempuan tua muncul sambil membawa sapu lidi panjang, sedang menyapu kompleks kuburan. Dia tampak ngomel-ngomel sendiri)

Mbok Jum:

(Tersentak) Heh, wong edan! Surup-surup kok ngomel-ngomel sendiri di kuburan. Ayo, pergi!

Tohir:

Eh, mbok Jum… (Gugup)

Mbok Jum:

Lho, kamu kok tahu namaku?

Tohir:

Ya, tahu. Sayakan…

Mbok Jum:

Eh… eh, kamukan Tohir, anaknya mak Romlah, bakul tempe itu kan?

Tohir:

Iya, mbok.

Mbok Jum:

Mau apa kamu? Ayo mulih! Kasihan makmu sejak tadi pagi sudah antri untuk ambil dana kompensasi BBM. Pergi sana!

Tohir:

Aduh, mbok… saya di sini itu mau…

Mbok Jum:

Mau nggrandong ya? Mau cari nomerkan?

Tohir:

Yang mau nggrandong itu siapa?

Mbok Jum:

Ya, kamu! Wiswis… nggak usah pakai gini-ginian. Ayo, mulih! Kasihan makmu.

Tohir:

Aduh, mbok… sampeyan itu bikin drop mental saya. Buyar suasana hati yang sudah saya bangun sejak tadi pagi. Rencana saya bisa kacau.

Mbok Jum:

Eh… eh… masih mau mangkir? Wis, gak usah! Sebagai juru kunci, saya tidak rela kamu nggrandong di sini. Pergi! Sana, cari tempat-tempat angker lainnya!

Tohir:

Tapi saya ini tidak sedang nggrandong, mbok…

Mbok Jum:

Sudah yo le… tobat. Lama-lama kamu bisa jadi penghuni kuburan sini, kalau masih suka nggrandong.

Tohir:

Nah, itu! Saya memang sedang mempersiapkan diri untuk jadi penghuni tempat ini, untuk selamanya.

Mbok Jum:

Se’ to le… maksudmu itu apa?

Tohir:

Mbok Jum nggak lihat, ada tali gantungan di sini? Saya ini sedang bersiap-siap untuk gantung diri.

Mbok Jum:

Edan! Bocah gemblung (kaget bukan main)

Tohir:

Saya memang gemblung. Tapi saya tidak edan. Saya sadar. Saya waras.

Mbok Jum:

Lha kenapa? Terus… makmu… Romlah… Masya allah… Aku harus cepat-cepat kasih tahu orang-orang. (bergegas)

Tohir:

Lho, mbok! Jangan! (panik)

Mbok Jum:

Tolong… tolong… Tohir mau gantung diri…

Tohir:

Aduh, kok jadi ruwet begini. Daripada rencanaku bubrah, aku eksekusi kamu!

(Dengan cepat Tohir menyergap mbok Jum, kemudian menggantungnya. Mbok Jum tewas seketika. Mayatnya dikubur di kompleks kuburan itu juga. Adegan nampak kesan saja. Berlangsung cepat dengan lampu mati-nyala)

Babak II

(Mbok Jum berdiri di bawah tali gantungan dengan cahaya merah. Dia nampak sebagai arwah. Ucapan-ucapannya tak terdengar pemain-pemain lain. Tohir semakin gelisah)

Mbok Jum:

Heh, Tohir! Bajigur kamu! Yang punya niatan matikan kamu, kenapa justru aku yang kau korbankan. Dasar anak muda jaman sekarang! Ngawur! Tidak bertanggung jawab! Terlahir dari bangsa apa kamu ini?

Tohir:

Aduh… mbok Jum… mbok Jum… kok jadi kamu yang mati. Dasar usil! Sudah tua, bawel!

Mbok Jum:

Tuh, lihat! Sudah membunuh, masih menyalahkan. Bocah keblinger!

Tohir:

Lihat kamu mati, aku jadi takut mati. Apa sebaiknya kuurungkan saja niatku gantung diri?

Mbok Jum:

Eh… eh… kebangetan! Jaman sekarang semakin jarang saja kujumpai ksatria di negeri ini. Yang sering muncul, justru manusia-manusia plin plan macam Tohir. Duh, gusti…

(Tiba-tiba tak terduga Leila muncul berjalan menyusuri kompleks kuburan)

Leila:

Lho, mas Tohir!

Tohir:

(Kaget dan heran) Leila! Kamu… kok… ada di sini…

Leila:

Iya, mas. Kebetulan lewat. Mas Tohir sendiri ada apa di sini?

Tohir:

Saya… anu… saya… mau… eh… (Gugup)

Leila:

Mau apa mas? Kok wajahmu pucat begitu?

Tohir:

Eh… anu… saya baru saja membantu mbok Jum. Eh, maksud saya menggantikan mbok Jum yang pulang kampung. Jadi ya… kecapekan.

Leila:

Oh, ya sudah. Monggo, mas… Eh iya, saya lupa titip pesan buat mak Romlah.

Tohir:

Pesan apa ya?

Leila:

Itu lho, saya mau beli tempe lagi. Kali ini lebih banyak dari biasanya. Mau dimasak sambal tumpang. Bilang mak Romlah, besok saya ambil. Maklum, mas Ismoyo kan lagi ngidam. Untung mintanya cuma sambal tumpang. Aneh ya mas Tohir, saya yang hamil kok mas Ismoyo yang ngidam. Nanti kalau saya melahirkan, jangan-jangan dia yang kesakitan. (Tertawa menyeringai)

Tohir:

(Bengong) Lho, dik Leila hamil berapa bulan.

Leila:

Mas Tohir ini bagaimana sih. Kan sudah lima bulan.

Tohir:

Jadi…

Leila:

Lha ya itu mas Tohir, saya bersyukur sekali bisa punya anak. Setelah lima tahun menanti, ternyata baru nongol sekarang. Padahal kita berdua hampir bercerai, gara-gara sering ribut. Mas Ismoyo mengira saya ini mandul. Mas Tohir… mas…?

Tohir:

(Kaget) Eh… iya… apa? Maaf… saya…

Leila:

Ya sudah, mas. Saya pulang dulu. Nanti kemalaman. Sudah ditunggu mas Ismoyo di rumah. Pesan saya jangan lupa ya. (Pergi berlalu)

Tohir:

Jadi… dia… sudah… hamil… Leila… sudah… lama… menikah... Terus… sebenarnya… kapan kita pacaran… Bukankah… Ya, ampun… aku… (linglung)

Mbok Jum:

Itu tandanya kamu sudah tidak waras. Otakmu itu sudah tidak jalan, Tohir… Tuh, akibatnya terlalu banyak dan lama berkhayal. Jadi bingung menentukan mana yang nyata dan tidak nyata.

Tohir:

Jadi selama ini…

Mbok Jum:

Modar wae! Heh, Tohir! Kembali saja ke rencana semula. Kek! Gantung diri!

Tohir:

Aduh mak… tolong aku mak… mbok Jum… aku…

Mbok Jum:

Oalah… Tohir… Tohir… Kowe iku kesurupan opo to le… kamu sudah membunuh aku, generasi tua yang kau anggap bawel. Sekarang, kamu kok minta tolong aku.

Babak III

(Seluruh ruang panggung gelap. Hanya level tempat Tohir dan mbok Jum yang menyala. Warna netral saja)

Tohir:

Leila… sebenarnya apa yang telah terjadi diantara kita? Apa yang telah terjadi antara kau dan Ismoyo? Atau… diantara kita sebenarnya tidak pernah terjadi apa-apa? Itu hanya cerita usang masa kanak-kanak, yang kemudian terbang melayang, mengangan… Lantas siapa Ismoyo? Dia hadir bak petir di siang bolong, memecah kesunyian alam khayalku, memperjelas potret diriku, yang hanya terlahir sebagai anak bakul tempe

Mbok Jum:

Heh, Tohir! Dasar anak tidak tahu rasa bersyukur! Kau dibesarkan lewat butiran-butiran kedelai yang ditempa, diinjak-injak, hingga dinikmati bangsamu!

Tohir:

Mak, andai kau bukan bakul tempe…

Mbok Jum:

Terus bakul apa? Bakul tanah, rumah, mobil, saham, solar, pulau, nuklir… bakul kehormatan… dodol bongsomu dewe? Kamu sudah gendeng! Bahkan kamu sudah mati!

(sayup-sayup terdengar orang-orang ramai dari kejauhan. Tiba-tiba mendekat. Lampu menyala keseluruhan. Ternyata rombongan pengantar jenazah yang hendak menguburkan mak Romlah)

Orang 1:

Kasihan mak Romlah. Sudah tua masih ikut-ikutan antri pembagian dana kompensasi BBM. Akibatnya…

Orang 2:

Tadi itu, mak Romlah sesak nafas karena berdesak-desakan?

Orang 1:

Bukan hanya karena itu. Tapi juga terinjak-injak. Oalah mak Romlah… mak Romlah… malang betul nasibmu.

Orang 2:

Mana anak-anak laki-laki satu-satunya tidak jelas kemana rimbanya. Tohir… Tohir… ciloko kamu!

(Tanpa diketahui orang-orang Tohir menangis sendiri, meronta-ronta)

Tohir:

Mak… aku di sini… Kenapa semuanya tidak ada yang mendengar? Hei… orang-orang…

Mbok Jum:

Ola opo to le… pakai nangis geruh-geruh segala. Eksistensimu itu antara ada dan tiada. Terdengar dan tidak terdengar. Sebab kamu itu pemuda yang nanggung. Serba magak. Mati ora… urip yo ora…

Tohir:

Mak… lebih baik aku gantung diri saja. Biar bisa ketemu kamu mak. Aku ingin mencium kakimu. Aku juga ingin ketemu mbok Jum. Ingin minta maaf.

Mbok Jum:

Oalah le… le… opo yo iso? Lagi pula mau mati saja kok banyak keinginan. Bocah kok sakarepe dewe!

(Tohir masih berteriak-teriak memanggil mak Romlah dan mbok Jum. Dan masih mengutarakan keinginan-keinginannya yang lain-bisa dikenbangkan. Lampu redup perlahan, kemudian mati)

Tohir:

Mak… mbok Jum… kenapa gelap di sini? Dimana kalian?

Selesai